Rabu, 13 November 2019

Cerpen

Malaikat Tak Bersayap



     Pagi ini aku melangkahkan kaki dengan malas menuju meja makan. Aku melirik baju seragam yang kupakai dengan asal-asalan dan tas yang tersampir dibahu kiri. Seperti biasa,aku ikut sarapan bersama ayah dan ibu.

     Aku langsung duduk di kursi tanpa mengucapkan ‘selamat pagi' atau sepatah kata pun,lalu segera menikmati roti di piringku yang sudah terisi tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sedari tadi tidak ada yang ingin membuka suara. Meja makan itu hanya didominasi oleh suara sendok dan piring yang saling bertemu.

     “Geva,gimana sekolahnya?” tiba tiba ibu bertanya padaku.

     “Gitu-gitu aja,” jawabku cuek dan ketus. Sementara ibu hanya tersenyum kecut mendengar jawabanku.

     Ibu mungkin sudah terbiasa dengan sikapku yang tidak peduli sekaligus tidak sopan. Tapi ayah? Dia akan menasehatiku dengan panjang lebar. Huh.. Nasehat ayah adalah hal yang paling membosankan untuk didengar.

     “Geva,sudah berapa kali ayah bilang? Tolong lebih sopan sama orangtua! Ibu tuh nanya baik-baik sama kamu! Ibu tuh lagi hamil,seharusnya kamu–“ belum selesai ayah bicara,aku langsung memotong,

     “Geva nggak minta ibu buat nanya kan? Udahlah,Geva mau berangkat,” aku segera mengambil tas ku dan pergi dari sana tanpa pamit,dan tidak menghiraukan suara ayah yang berteriak-teriak memanggilku.

     Ugh,mereka benar-benar membuat mood ku berantakan pagi ini.


     Sesampainya di gerbang sekolah,aku langsung disambut oleh Jevan. Ya,seperti remaja-remaja lainnya, aku menjalin hubungan yang disebut pacaran dengan Jevan. Meski kedua orangtuaku tidak mengetahuinya,lagian aku merasa hal itu tidak penting untuk diberi tahu pada mereka.

     “Good morning Geva,” ucap Jevan dengan senyum manisnya

     “Good morning Van,” balasku pada Jevan

     “Kok cemberut gitu sih? Kamu kenapa Ge?” Jevan memperhatikan wajahku yang tertunduk lesu.

     “Gak kenapa-kenapa kok,” aku terpaksa berbohong.

     “Oh yaudah,ke kelas yuk,” Jevan segera menarik tanganku menuju kelas.


     Tidak terasa bel pulang sekolah telah berbunyi,sehingga semua murid terlihat senang. Mereka segera memasukkan buku kedalam tas masing-masing,termasuk aku. Aku segera menyandang tas ku dan bersiap untuk pulang ke rumah.

     Aku berjalan dengan santai di koridor sekolah yang mulai sepi,sambil melihat ruangan-ruangam kelas yang mulai kosong. Tak sengaja mataku menangkap keberadaan kak Tiara dan dua temannya di ujung koridor,tepatnya persis di depanku. Mereka terlihat sedang membincangkan sesuatu yang lucu,karena kulihat sesekali kak Tiara tertawa.

     Apa yang harus kulakukan?

     Kak Tiara dan dua temannya itu termasuk orang-orang yang harus kuhindari di sekolah. Bagaimana tidak? Setiap bertemu dengan mereka,aku pasti dikerjai atau dibentak,atau bahkan dibully oleh mereka.
     Aku terus berjalan,tanpa sadar aku sudah semakin dekat dengan mereka. Tadinya aku ingin berbalik ke belakang dan mencari jalan lain untuk menuju gerbang sekolah. Tapi sialnya mereka telah melihatku duluan, dan mau tak mau aku harus berjalan melewati mereka.

     Ketika melewati mereka aku hanya diam dan menunduk,mencoba untuk biasa saja agar tidak terken masalah nantinya. Namun aku keliru,satu langlah aku melewati mereka,kak Tiara langsung menegurku.

     “Heh,gak sopan banget lo sama kakak kelas,” ucap kak Tiara dingin. Walaupun takut,aku terpaksa berbalik badan.

     “Maaf kak saya cuma mau lewat,” dengan cepat aku membalikkan badan lagi dan mencoba untuk lari dari mereka. Namun dengan cepat tangan kak Tiara menahan tas ku saat akan berlari.

     Krekk-

     Tas yang kusandang seketika robek. Tanpa rasa bersalah,kak Tiara melepaskan tangannya dari tas ku dan tertawa. Apa ini lelucon baginya?

     “Ups,kayaknya gue sengaja deh,” kak Tiara dan dua temannta tertawa terbahak-bahak melihatku. Tanpa menunggu lagi,aku pergi dari sana membawa tas yang sudah robek itu.

     Aku pulang dengan wajah kusut. Aku membuka pintu tanpa mengucapkan sepatah kata dan tidak menyalami tangan ibu karena sudah terlalu kesal. Aku meletakkan sepatu dan tasku sembarangan dan langsung berlari menuju kamar. Tanpa kusadari aku langsung tertidur

     Malamnya aku terbangun. Jam menunjukkan pukul sebelas lewat tiga menit. Samar-samar aku mendengar suara dari luar. Siapa yang masih terbangun selarut ini? Kemudian aku memberanikan diri mengintip di celah-celah pintu.

     Hal yang pertama kali kulihat adalah ibu.

     Kupikir ibu masih bangun karena ingin minum atau melakukan hal lain,ternyata aku keliru. Ibu sedang duduk di ruang tengah sambil menjahitkan tasku yang robek siang tadi.

     Tanpa permisi,air mataku jatuh begitu saja. Ternyata ibu masih saja sayang dan peduli padaku walaupun aku selalu bersikap tidak sopan.

     Aku kembali menutup pintu kamarku,lalu duduk di sudut tempat tidur. Aku bertanya-tanya. Apa sikapku selama ini keterlaluan?


     Hari ini aku belajar,bahwa setiap kejadian itu pasti ada sebab akibat,dan hikmahnya. Siang tadi kak Tiara merobek tasku dengan sengaja,dan tentu saja itu membuat hatiku sakit,bahkan aku menyimpan dendam pada kak Tiara. Mungkin sama hal nya dengan ibu juga terluka karena aku bersikap tidak sopan pagi ini,tetapi ibu berbeda denganku. Aku menyimpan dendam yang begitu besar,sementara ibu? Mungkin ibu merasakan sakit yang lebih besar dariku,tapi dengan hebatnya ibu hanya diam dan tersenyum dengan sabar.

     Pagi tadi aku dengan tulusnya mengucapkam selamat pagi pada jevan,sementara aku enggan mengucapkan srlamat pagi pada ayah dan ibu yang bahkan berstatus orangtuaku.

     Aku segera membuka buku diary milikku dan menulis beberapa kata disana.

“Terkadang hidup memang tidak berjalan sesuai keinginan. Berusahalah untuk lebih bersyukur dengan apa yang kamu miliki.

Jangan pernah bersikap tidak sopan pada siapapun. Karena tanpa kamu sadari setiap hal yang kamu perbuat akan ada balasannya.”


     Aku menutup buku itu,mengelap sisa air mataku lalu segera tidur.

     Paginya,aku menangis dihadapan ayah dan ibu,memohon dan meminta maaf pada mereka karena sikapku selama ini.