Malaikat
Tak Bersayap
Pagi ini aku melangkahkan kaki dengan
malas menuju meja makan. Aku melirik baju seragam yang kupakai dengan asal-asalan
dan tas yang tersampir dibahu kiri. Seperti biasa,aku ikut sarapan bersama ayah
dan ibu.
Aku langsung duduk di kursi tanpa
mengucapkan ‘selamat pagi' atau sepatah kata pun,lalu segera menikmati roti di
piringku yang sudah terisi tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sedari tadi tidak
ada yang ingin membuka suara. Meja makan itu hanya didominasi oleh suara sendok
dan piring yang saling bertemu.
“Geva,gimana sekolahnya?” tiba tiba ibu
bertanya padaku.
“Gitu-gitu aja,” jawabku cuek dan ketus. Sementara
ibu hanya tersenyum kecut mendengar jawabanku.
Ibu mungkin sudah terbiasa dengan sikapku
yang tidak peduli sekaligus tidak sopan. Tapi ayah? Dia akan menasehatiku
dengan panjang lebar. Huh.. Nasehat ayah adalah hal yang paling membosankan
untuk didengar.
“Geva,sudah berapa kali ayah bilang? Tolong
lebih sopan sama orangtua! Ibu tuh nanya baik-baik sama kamu! Ibu tuh lagi
hamil,seharusnya kamu–“ belum selesai ayah bicara,aku langsung memotong,
“Geva nggak minta ibu buat nanya kan?
Udahlah,Geva mau berangkat,” aku segera mengambil tas ku dan pergi dari sana
tanpa pamit,dan tidak menghiraukan suara ayah yang berteriak-teriak memanggilku.
Ugh,mereka benar-benar membuat mood ku berantakan pagi ini.
Sesampainya di gerbang sekolah,aku
langsung disambut oleh Jevan. Ya,seperti remaja-remaja lainnya, aku menjalin
hubungan yang disebut pacaran dengan Jevan.
Meski kedua orangtuaku tidak mengetahuinya,lagian aku merasa hal itu tidak penting
untuk diberi tahu pada mereka.
“Good morning Geva,” ucap Jevan dengan
senyum manisnya
“Good morning Van,” balasku pada Jevan
“Kok cemberut gitu sih? Kamu kenapa Ge?”
Jevan memperhatikan wajahku yang tertunduk lesu.
“Gak kenapa-kenapa kok,” aku terpaksa
berbohong.
“Oh yaudah,ke kelas yuk,” Jevan segera
menarik tanganku menuju kelas.
Tidak terasa bel pulang sekolah telah
berbunyi,sehingga semua murid terlihat senang. Mereka segera memasukkan buku
kedalam tas masing-masing,termasuk aku. Aku segera menyandang tas ku dan
bersiap untuk pulang ke rumah.
Aku berjalan dengan santai di koridor
sekolah yang mulai sepi,sambil melihat ruangan-ruangam kelas yang mulai kosong.
Tak sengaja mataku menangkap keberadaan kak Tiara dan dua temannya di ujung koridor,tepatnya
persis di depanku. Mereka terlihat sedang membincangkan sesuatu yang
lucu,karena kulihat sesekali kak Tiara tertawa.
Apa yang harus kulakukan?
Kak Tiara dan dua temannya itu termasuk
orang-orang yang harus kuhindari di sekolah. Bagaimana tidak? Setiap bertemu
dengan mereka,aku pasti dikerjai atau dibentak,atau bahkan dibully oleh mereka.
Aku terus berjalan,tanpa sadar aku sudah
semakin dekat dengan mereka. Tadinya aku ingin berbalik ke belakang dan mencari
jalan lain untuk menuju gerbang sekolah. Tapi sialnya mereka telah melihatku
duluan, dan mau tak mau aku harus berjalan melewati mereka.
Ketika melewati mereka aku hanya diam dan
menunduk,mencoba untuk biasa saja agar tidak terken masalah nantinya. Namun aku
keliru,satu langlah aku melewati mereka,kak Tiara langsung menegurku.
“Heh,gak sopan banget lo sama kakak kelas,”
ucap kak Tiara dingin. Walaupun takut,aku terpaksa berbalik badan.
“Maaf
kak saya cuma mau lewat,” dengan cepat aku membalikkan badan lagi dan mencoba
untuk lari dari mereka. Namun dengan cepat tangan kak Tiara menahan tas ku saat
akan berlari.
Krekk-
Tas yang kusandang seketika robek. Tanpa
rasa bersalah,kak Tiara melepaskan tangannya dari tas ku dan tertawa. Apa ini
lelucon baginya?
“Ups,kayaknya gue sengaja deh,” kak Tiara
dan dua temannta tertawa terbahak-bahak melihatku. Tanpa menunggu lagi,aku
pergi dari sana membawa tas yang sudah robek itu.
Aku pulang dengan wajah kusut. Aku membuka
pintu tanpa mengucapkan sepatah kata dan tidak menyalami tangan ibu karena sudah
terlalu kesal. Aku meletakkan sepatu dan tasku sembarangan dan langsung berlari
menuju kamar. Tanpa kusadari aku langsung tertidur
Malamnya aku terbangun. Jam menunjukkan
pukul sebelas lewat tiga menit. Samar-samar aku mendengar suara dari luar.
Siapa yang masih terbangun selarut ini? Kemudian aku memberanikan diri
mengintip di celah-celah pintu.
Hal yang pertama kali kulihat adalah ibu.
Kupikir ibu masih bangun karena ingin
minum atau melakukan hal lain,ternyata aku keliru. Ibu sedang duduk di ruang
tengah sambil menjahitkan tasku yang robek siang tadi.
Tanpa permisi,air mataku jatuh begitu
saja. Ternyata ibu masih saja sayang dan peduli padaku walaupun aku selalu
bersikap tidak sopan.
Aku kembali menutup pintu kamarku,lalu
duduk di sudut tempat tidur. Aku bertanya-tanya. Apa sikapku selama ini
keterlaluan?
Hari ini aku belajar,bahwa setiap kejadian
itu pasti ada sebab akibat,dan hikmahnya. Siang tadi kak Tiara merobek tasku
dengan sengaja,dan tentu saja itu membuat hatiku sakit,bahkan aku menyimpan
dendam pada kak Tiara. Mungkin sama hal nya dengan ibu juga terluka karena aku
bersikap tidak sopan pagi ini,tetapi ibu berbeda denganku. Aku menyimpan dendam
yang begitu besar,sementara ibu? Mungkin ibu merasakan sakit yang lebih besar
dariku,tapi dengan hebatnya ibu hanya diam dan tersenyum dengan sabar.
Pagi tadi aku dengan tulusnya mengucapkam
selamat pagi pada jevan,sementara aku enggan mengucapkan srlamat pagi pada ayah
dan ibu yang bahkan berstatus orangtuaku.
Aku segera membuka buku diary milikku dan menulis
beberapa kata disana.
“Terkadang hidup memang tidak
berjalan sesuai keinginan. Berusahalah untuk lebih bersyukur dengan apa yang
kamu miliki.
Jangan pernah bersikap tidak sopan
pada siapapun. Karena tanpa kamu sadari setiap hal yang kamu perbuat akan ada balasannya.”
Aku menutup buku itu,mengelap sisa air
mataku lalu segera tidur.
Paginya,aku menangis dihadapan ayah dan
ibu,memohon dan meminta maaf pada mereka karena sikapku selama ini.